Novel

Fifteen
Chapter 1: Gadis Dibalik Jendela

Dengan wajah gembira, rambut yang terurai rapi dan senyuman yang mempesona, Audrey berjalan menuju ruang kelas seperti biasanya. Sejak dirinya sudah menemukan seseorang sebagai tempat hatinya berlabuh, Audrey semakin terlihat bergembira. Wajahnya senang, gembira, segar dan selalu terlihat berseri-seri. Pengaruh hatinya ini yang membuat segalanya jadi berubah. Audrey yang dulu selalu terlihat dingin tetapi baik, kini sudah mulai hangat dan menyenangkan. Audrey yang dulu sering egois, kini sudah mulai mau berbagi. Mungkin ia sudah menemukan dunianya sendiri yang bisa membuatnya nyaman dan mampu membuatnya menghilangkan sedikit beban pikiran diotaknya.
Seperti biasa, Audrey datang dalam keadaan terlambat. Nyaris terlambat mungkin, karena ia datang 5 menit setelah bel berbunyi atau kurang lebih 10 menit sebelum gerbang utama sekolah tertutup rapat. Dengan senyum indah, iapun masuk ke kelasnya yang sudah penuh dengan keributan siswa yang belum mengerjakan PR.
Dia duduk sambil menatap jendela karena kebetulan ia duduk di dekat jendela. Menatap keluar kelas menunggu sang pujaan hatinya Andrean datang. 
“Heh, Drey, kamu lagi apa ? Dari tadi pelangak pelongok gak jelas keluar. Lagi nungguin si Andrean ya? Ehm kebiasaan.” Ujar Melda teman sebangkunya yang tiba-tiba muncul di belakangnya .
“Apa sih? Dateng-dateng bukannya salam malah ceplas-ceplos!” Kata Audrey.  Mereka pun berselisih membicarakan hal yang tidak penting.
Dengan terburu-buru Andrean berlari menuju kelas. Ternyata masih ada orang yang datang lebih terlambat daripada dirinya. Maklum saja, Andrean datang 10 menit setelah bel. Wajah Audrey terus tersenyum menatapnya tanpa henti. Akhirnya Andrean pun datang tepat waktu.
“Pagi!“Audrey menyambut kedatangan Andrean, yang kebetulan duduk dibelakang tempat duduknya.
“Pagi juga!”
Dengan tersenyum Andrean menjawab. Sementara di belakang, Melda  yang secara terang-terangan mengaku bahwa dirinya naksir Andrean di depan teman-teman sekelasnya, tiba-tiba meremukan buku-buku yang dipegangnya seketika. Seperti biasa KBM pun berlangsung dengan baik. Sementara Andrean yang menjadi bintang di kelas itu, yang selain tampan ia juga seorang yang cerdas. Ia mampu medapatkan nilai 100 yang sempurna dalam ulangan matematika, sementara murid lain angkat tangan dengan soal-soal bab Dimensi 3 yang sangat memuakkan itu. Bahkan, tak satupun murid dikelasnya yang mampu melewati batas ketuntasan, termasuk juga Audrey. Andrean mampu mengerjakan soal-soal fisika bab Vektor dengan lancar. Dan sudah bisa diduga, ia mendapatkan nilai tertingggi di kelas.
Audrey sempat berpikir, apa yang membuatnya mengagumi Andrean. Dari awal dia tidak tau apa yang membuat dirinya bisa mengagumi sang bintang kelas itu. Apakah karena Andrean memiliki otak yang berkapasitas lebih besar dari pada standar ketentuan kapasitas otak dikelasnya? (Singkat kata, sebut saja Andrean pintar). Atau karena Andrean adalah seseorang yang memiliki wajah yang diatas rata-rata? (Sebut saja dia tampan). Memang Audrey mengakui bahwa Andrean itu adalah seseorang yang tampan. Semua murid dikelasnya juga mengakui itu. Sejujurnya bukan hanya teman seisi kelas Audrey yang menyebut Andrean tampan, bahkan sebagian besar penghuni sekolah mengakuinya, termasuk juga dikalangan guru-guru.
Tapi menurut Audrey yang membuatnya bisa jatuh cinta pada Andrean. Apa karena dia baik? Masih banyak teman laki-lakinya yang jauh lebih baik dan perhatian padanya. Sudahlah! Audrey selalu meng-cut setiap kemungkinan di otaknya tentang masalah ini. Baginya ini tidak terlalu penting, karena menurutnya yang lebih penting sekarang adalah dia jatuh cinta kepada Andrean! Oh, indahnya cinta! Dia selalu mengatakan itu didalam hati ketika ia mulai merasakan jatungnya berdetak lebih kencang ketika Andrean berada didekatnya. Hahaha! Cinta remaja!
Tak terasa waktu berlalu. Bel pulang pun berbunyi. Audrey seperti biasa pasti ia pulang bersama Andrean, tapi, tak hanya berdua mereka pulang bersama sahabat dan teman terdekatnya. Terdiam di halte bis biasanya mereka suka berdiam dulu dan mengobrol tak karuan. Niatnya mau menunggu bis untuk pulang, tapi sudah puluhan bis lewat tetap saja mereka berdiam sampai berjam-jam. Tapi ini menyenangkan bagi Audrey karena bisa berlama-lama dengan Andrean, tapi kedekatan mereka membuat Melda semakin panas.
Setiap pagi, walaupun dia selalu datang terlambat bin kesiangan, Audrey selalu memiliki waktu untuk duduk dibalik jendela, tempat favoritnya kini. Entah apa yang bisa membuatnya nyaman. Tetapi dia selalu berpikir untuk tetap berada di balik jendela itu untuk mengisi kekosongan hatinya. Baginya, mungkin jendela itu adalah mata hatinya, yang bisa selalu melihat kedatangan Andrean sang pujaan hatinya, datang dengan segala senyuman yang manis. Membuat siapapun yang menaruh hati padanya selalu terpesona. Terlebih lagi Audrey, yang sedang merasakan jatuh cinta yang berkobar dihatinya. Kevin selalu mengingatkan padanya, bahwa segalanya tidak selalu seperti yang ia harapkan. Kevin selalu berkata begitu karena ia khawatir Audrey akan merasakan sakit lagi seperti dulu.
“Jangan terlalu menaruh harapan gitu deh Drey, takutnya kamu sakit lagi kayak waktu itu! Aku takut kamu sakit lagi Audrey. Bukannya apa-apa aku ngomong kayak gini, kamu inget kan waktu kamu sakit gara-gara cowok brengsek itu?”
Kevin selalu saja mengingatkan Audrey tentang masa lalunya itu. Kevin memang sangat khawatir terhadap keadaan Audrey sekarang. Ia takut kejadian seperti itu terulang kembali. Audrey sempat depresi karena kejadian itu. Sudahlah, Kevin tidak mau membahasnya lagi. Dan setiap kali Kevin mengatakan hal itu kepadanya, Audrey pasti langsung berkata,
“Tenang aja Vin. Slow down dong! Aku juga pasti tau apa yang aku mau, apa yang aku mampu. Kamu ingetin aku aja ya kalo aku udah berlebihan! Oke besties???”
“Oke deh besties!”
Selalu saja berjalan seperti itu. Kevin mengingatkan, Audrey selalu menenangkan Kevin bahwa dirinya pasti tau apa yang harus ia lakukan. Tapi tetap saja Kevin selalu mewanti-wanti Audrey agar ia tidak salah melangkah, untuk menjaga perasaannya.
Hari demi hari Audrey semakin jatuh cinta terhadap Andrean. Semakin berseri-seri wajahnya. Sikapnya juga sangat berubah 180˚. Dia menjadi bersikap sangat manis dan ramah terhadap semua orang, terlebih lagi terhadap Andrean. Semakin murah senyum. Kevin sangat senang melihat perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Ia berharap perubahannya itu akan berlangsung selamanya, bukan hanya saat Audrey sedang jatuh cinta saja.
Hidup Audrey terasa kian lengkap saja. Melewati hari dengan penuh kegembiraan dan semangat karena memiliki teman yang baik di sekelilingnya serta Andrean pujaan hatinya yang selalu ia dambakan.
Sampai tiba saatnya mereka harus berpisah sementara waktu untuk liburan semester yang sebenarnya bisa dibilang cukup panjang, tetapi tetap saja tidak akan cukup dinikmati oleh hampir semua murid di sekolah Audrey. Memang waktu sekolah yang sangat menyiksa atau memang para muridnya yang selalu menginginkan liburan panjang. Tapi sepertinya memang semua murid menginginkan liburan yang sangat panjang agar terbebas dari semua tugas dan ulangan-ulangan yang tak kunjung henti. Bahkan pada liburan kali ini pun mereka semua belum bisa terbebas dari tugas-tugas yang aduhai banyaknya.
“Ini kan libur, masa masih di kasih tugas juga sih? Kayak gak cukup aja waktu sekolah! Rakus banget sih sekolah? Waktu libur aku masih mau diembat juga. Huh! Males ah ngerjainnya!” Pikirnya dalam hati.
Sebagian besar teman-teman Audrey juga berpikir seperti itu. Mengeluh dengan semua tugas yang diberikan pada waktu liburan. Audrey dan para “Bebenyit-Bebenyit” (Kevin, Airin, Melvy, Mario, Irsyad, Genta, dan tentu saja Andrean), itu mengobrol dan nimbrung tak karuan di halte bis seperti biasanya.
“Keterlaluan deh! Nyebelin banget tau. Masa liburan disuruh ngerjain tugas sih? Bukannya ngilangin setres ini mah, malah nambah-nambahin pikiran! Dasar sekolah! Pengen aku bakar juga deh!” Ujar Airin, teman Audrey yang sedikit gila.
“Iya bener tuh setuju! Kita kan udah pusing sama tugas-tugas dan ulangan itu. Ga tau apa, murid-muridnya udah kebakaran jenggot gini gara-gara itu?” Mario menambahkan.
“Eh sodara-sodara! Aku punya ide bagus deh!” Airin mulai menampakkan tampang jahatnya. Sepertinya ia mempunyai ide yang busuk, seperti biasanya. Hahaha!
“Ide apaan sih Rin? Wah, curiga nih!” Kevin yang selalu tanggap dengan keadaan, mulai memprediksi ide jahat Airin.
“Kalian inget gak, minggu kemaren kan kita percobaan di lab Kimia tuh. Kira-kira masih ada sisa Natrium gak ya?” Tanya Airin.
“Buat apaan sih? Masih penasaran juga sama percobaan Kimia kita kemaren? Heehhh, aku udah pusing deh makan pelajaran!” Keluh Melvy.
“Bukan ih! Kayaknya aku ngerti deh sama maksudnya Airin!” Audrey juga mulai mengeluarkan wajah jahatnya.
“Emang apaan sih?” Kevin semakin penasaran.
“Ini nih, otak-otak jahatnya pada mau keluar deh kayaknya!” Genta yang dari tadi diam saja karena kepanasan, kini ikut nimbrung juga.
“Gini, kalo masih ada sisa Natrium yang minggu kemaren, kita ambil aja! Sabotase aja lab Kimia!” Airin angkat bicara.
“Buat apa ai kamu?” Genta penasaran.
“Ya buat ledakin sekolah lah! Buat apalagi coba? Kamu pikir buat bikin percobaan lagi biar nambahin nilai? Ogah ah! Haroream teuing!” Audrey menjawab.
“Wah kalo gitu aku setuju deh! Biar kita bisa libur terus! Hahaha!” Tawa Melvy.
“Wah buset dah! Jahat bener sih kalian? Tapi aku juga setuju deh!” Ujar Kevin.
“Iya, abis kita ledakin sekolah, terus kita bakar aja semua gedungnya. Abis itu kita tobat. Gimana? Cemerlang kan ideku?” Irsyad mulai berceloteh gaya anak Cipatatnya.
“Iya, tapi tobatnya di penjara! Hahaha!” Jawab Genta.
Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak. Memang seperti itulah kebiasaan mereka, selalu bercanda dan nimbrung, ngobrolin sesuatu yang tidak karuan. Tapi justru hal itulah yang membuat mereka semakin dekat. Mereka adalah kumpulan orang-orang kocak yang sangat kompak. Mereka selalu bercanda, tetapi meskipun seperti itu, bukan berarti mereka tidak bisa serius. Ada kalanya serius, merekapun bersikap serius. Ada kalanya bercanda, mereka akan bercanda dan mengeluarkan semua pikiran kocak mereka.
“Kalian teh ngomong apaan sih? Gak ngerti aku sumpahnya! Hahaha!” Andrean yang tiba-tiba menceletuk.
Andrean memang sangat pendiam. Jarang sekali dia mengobrol dengan siapapun. Bahkan dengan geng Bebenyit-nya itu. Mungkin sudah sifat dan wataknya memang seperti itu. Dia sealu berprinsip bahwa Diam Itu Baik. Andrean adalah orang yang paling misterius di kelas mereka. Tetapi walaupun terliat dingin dan cuek, sebenarnya Andrean itu baik.
“Eh, temen-temen. Udah siang nih! Pulang yuk!” Melvy sudah protes. Dia memang orang yang paling tidak betah berlama-lama di sekolah. Bebenyit paling homesick diantara mereka.
“Yah, baru aja jam segini Mel! Bentar lagi napa? Kita kan udah mau libur lama, ga akan ketemu 3 minggu. Ntar kangen lho sama aku! Hahaha!” Audrey memang sangat kepedean!
“Huuuuu! Siapa juga yang bakal kangen sama kamu?? Pede bin narsis banget sih? Mau sampe jaman Firaun ngojay di laut pink pun, aku ga akan sama kamu da!” Hina Airin.
“Heh?! Bener ya? Awas kalo sampe kangen sama aku, aku gulingin kamu dari Gunung Bohong lho!”
“Ya sok weh! Emang bisa?!”
Seperti biasa, Audrey dan Airin memulai perdebatan mereka. Mereka selalu memperdebatkan masalah-masalah yang bisa dibilang tidak penting. Tapi disanalah letak kekhasan mereka berdua, selalu memperdebatkan hal-hal yang tidak penting.  Walaupun hampir semua anggota geng Bebenyit selalu bertengkar, tetapi tetap saja Audrey dan Airinlah yang intesitas bertengkarnya paling banyak. Tetapi, ujung-ujungnya adalah mereka menanggapinya dengan bercanda. Jadi tidak ada rasa sakit hati sedikit pun diantara mereka. Inilah yang sering membuat anggota geng Bebenyit yang lainnya sakit kepala akut gara-gara ulah mereka berdua.
“Jiaaaaaah!! Audrey sama Airin berantem lagi deh! Lalalala! Gak ikut-ikutan! Lalalala!” Ejek Kevin.
“Aduh, kalian teh berantem wae atuh! Bosen ngadengena! Lieur urang yeuh!” Protes Mario.
“Geus geus atulah! Tong pahili wae atuh aranjaeun teh. Rujit lah cing sumpahna urang!” Irsyad dengan gaya ala anak Cipatatnya mulai angkat bicara.
“Sudahlah cucu-cucuku. Kalian jangan berantem gara-gara rebutan warisan. Ntar warisan mah gampang, kakek bagi rata deh!” Canda Genta. Genta memang selama ini berperan sebagai kakek dari mereka berdua.
“Udah ih kalian teh! Berantem wae! Ga bosen apa? Berantem gara-gara masalah yang ga penting lagi? Kurang kerjaan tau gak!” Melvy yang biasanya bertindak untuk melerai setiap pertengkaran yang terjadi diantara geng Bebenyit.
Sayangnya Audrey harus meninggalkan kebiasaan itu dengan geng Bebenyitnya untuk sementara    waktu. Karena, libur telah tiba! Mereka (Anggota Geng Bebenyit) juga harus menikmati masa liburan mereka masing-masing. Terutama Audrey. Dia memang sudah lama menginginkan libur panjang, sejak ia masuk SMA. Dia masih merasakan bahwa selama ini ia selalu tertekan oleh tugas, ulangan dan kegiatan sekolah lainnya. Pasti Audrey sudah sangat menanti-nanti liburannya ini. Pada liburan ia, Audrey pergi mengunjungi kakek dan neneknya di Jawa Timur. Sebuah desa yang sangat sejuk, di lereng Gunung Lawu, Provinsi Jawa Timur.
(To be continued....)