Sebuah pintu gerbang di sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit, tampak terbuka. Terlihat sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilat akan memasuki pelataran rumah yang hampir mirip istana itu. Dua orang satpam yang bertugas di pos penjagaan rumah yang tadinya hampir tertidur itu, bergegas membukakan pintu gerbang. Dengan hormat dan sopan, dua orang satpam itu membungkuk ketika mobil itu masuk ke halaman rumah yang hijau dan sangat luas itu.
Mobil terus melaju ke arah parkiran samping rumah, dekat garasi mobil yang mungkin ada beberapa mobil didalamnya. Seseorang yang tadi menyetir, kemudian bergegas turun dari mobil dengan baju safarinya yang berwarna biru donker. Perlahan membukakan pintu belakang mobil yang kaca jendelanya tertutup rapat. Seseorang lagi yang dari tadi hanya terduduk manis di jok belakang mobil, kini mulai menurunkan salah satu kakinya ke tanah. Perlahan ia mengeluarkan badannya dari dalam mobil mewah itu, sementara sang supir membungkuk di depannya dengan perasaan hormat.
“Kau ini sudah bosan kerja ya? Membuka pintu mobil saja lama! Nanti akan kulaporkan pada ayahku!”
Si supir hanya tertunduk dengan wajah pasrah dan memelas, seakan ia rela diperlakukan apa saja asalkan dirinya tidak dipecat dari pekerjaannya ini, hanya karena hal yang sepele.
Adalah Jo Abigasta, atau yang bernama lengkap Jonathan Alejandro Marvelino Abigasta, seorang putra dari pengusaha sekaligus konglomerat besar di negeri ini. Ayahnya, Flaubert Abigasta, pemegang tahta tertinggi dari sebuah perusahaan raksasa yang bergerak pada perindustrian kertas. Posisi ayahnya yang sangat cemerlang ini membuatnya menjadi seorang Jonathan yang sangat arogan, egois, ingin menang sendiri, dan juga sombong. Perasaannya sebagai orang yang paling kaya di negeri ini, membuatnya tak seperti Jonathan yang dulu, Jonathan yang selalu ramah, sopan kepada siapapun yang baru dijumpainya.
Keesokan harinya, seperti biasa, Jo berangkat ke sekolah dengan sepatu mengkilat, baju tersetrika rapi, rambut klimis, harum badan yang khas, dan tak lupa dengan diantar mobil Mercedes Benz kinclong milik ayahnya. Mobil itu melaju keluar dari gerbang rumah. Roda terus berputar secara perlahan menyusuri jalan aspal yang terbentang.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa pak supir membukakan pintu untuk sang tuan muda yang angkuh dan sombong dengan cepat. Rupanya pak supir itu tak mau kejadian kemarin terulang kembali. Jo melangkahkan kakinya yang dihiasi oleh sepatu bermerk mahal yang langsung didatangkan dari luar negeri, rancangan desainer yang ternama di dunia langganannya. Ia berjalan menuju ruang kelas yang terletak di lantai 2 bangunan sekolah yang elit itu.
Ketika ia sudah berada di ambang pintu kelas, ternyata Bu Elisa, Guru Geografi sudah terlebih dahulu datang ke kelas dan menyampaikan materi Pelajaran 20 menit yang lalu. Walaupun ia sudah menyadari bahwa dirinya terlambat, Jo dengan tidak pedulinya duduk di kursi tanpa permisi pada Bu Elisa.
“Jo, apakah anda tahu peraturan yang berlaku di sekolah kita?”
Jo tidak menjawab.
“Bukankah seharusnya anda datang ke sekolah 20 menit yang lalu?”
“Saya tahu” Jawabnya datar.
“Lalu mengapa anda datang 20 menit setelah bel dibunyikan?”
“Saya terlambat”
“Oh, satu lagi. Bukankah sekolah sudah mengajarkan peraturan tata krama pada setiap muridnya?”
Jo diam tak bergeming.
“Apakah anda sebegitu terhormatnya sampai tidak mau berkata maaf?”
“Saya tidak pelit kata maaf, meskipun pabrik maaf sangat langka di dunia ini dan saya tidak memilikinya”
“Lalu, mengapa anda tidak mau berkata maaf?”
“Karena saya bingung, saya harus berkata maaf pada siapa!”
Ucapan yang terlontar dengan nada yang cukup datar itu mampu membuat murid-murid satu kelas, bahkan Bu Elisa pun terdiam. Sebuah kalimat yang cukup simpel dan tidak sulit untuk di mengerti itu ternyata mampu membuat hantaman yang cukup dahsyat bagi Bu Elisa. Bu Elisa meneteskan air mata di pipi merah meronanya. Dalam sejarah sepanjang Jo bersekolah di sekolah itu, memang sudah terkenal apabila seorang Jonathan Abigasta membuat semua guru yang menegurnya tak berkutik.
>oOo<
“Tidak ada gunanya anda semua memanggil orang tua saya. Mereka terlalu sibuk untuk urusan sepele seperti ini.”
Jo berkata seperti itu saat dirinya berada di ruang BK. Para guru memang berencana untuk memanggil orang tua Jo. Berkali-kali para guru dihadapkan oleh masalah seperti ini. Tetapi, selalu mendapatkan tanggapan yang tidak serius. Karena orang tua Jo sangat sibuk, sering mondar-mandir ke luar negeri, akhirnya kakak Jo, Marvel, yang menangani urusan-urusan seperti ini. Tetapi sepertinya para guru sudah bosan untuk melakukan hal ini. Karena sudah berulang kali dilakukan, dan hasilnya selalu nihil. Skorsing, metode ini juga juga pernah diuji cobakan, tetapi malah orang tua Jo menuntut pihak sekolah. Drop Out? Wow, kalau masalah ini sekolah tidak mungkin berani mengambil keputusan ini.
Akhirnya, Bu Nadia, guru BK Jo, mendapatkan ide yang cemerlang. Beliau memiliki ide agar Jo diberi pengajaran tentang kerohanian di sebuah pesantren yang ada sebuah desa yang terletak cukup jauh dengan tempat tinggal dan sekolah Jo sekarang. Beliau mengatakan kepada Jo akan ada program pertukaran pelajar dengan pesantren itu, dan Jo-lah yang terpilih sebagai peserta program studi banding itu. Tetapi sebelumnya, Bu Nadia mengkonfirmasi masalah ini kepada Marvel sekaligus meminta persetujuannya. Marvel sangat menyetujui usul itu dan menandatangani sebuah surat perjanjian.
“Bagaimana Jo? Anda setuju?”
“Apakah akan ada jaminannya kalau saya akan baik-baik saja di sana?”
“Tentu saja. Kami sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna”
“Baiklah, saya setuju”
Tidak disangka, ternyata si angkuh Jo mau menuruti kata-kata Bu Nadia!
>oOo<
Pesantren Nurul Insan yang terletak di sebuah pedesaan yang masih asri dan sejuk di lereng pegunungan, terlihat begitu rapi dan damai. Para santri yang terlihat sedang beraktivitas untuk membersihkan lingkungan itu terlihat akrab, saling bekerja sama dan teratur. Sebuah pemandangan yang cukup baik, mengingat sebuah kebudayaan yang sopan dan santun, yang dianggap sebagai cirri kelemahan bagi generasi jaman sekarang, masih berkembang di antara mereka-mereka yang ada di sana. Seorang ustad pimpinan pondok pesantren itu langsung datang menghampiri Jo dan rombongan para guru yang mengantarkan untuk aktivitas “Studi Banding”nya itu.ustad itu adalah Ustad Sofyan.
“Assalamualaikum…!”. Ustad Sofyan menyapa dengan ramah dan hangat.
“Waalaikumsalam”. Bu Nadia membalas salam itu dengan hangat pula. “Kami sudah siap dengan program studi banding ini. Kapan kita bisa mulai?”
“Baiklah, kita bicarakan ini di ruangan pemimpin yayasan saja.”
Mereka berjalan berbarengan menuju ruang pemimpin yayasan Pesantren Nurul Insan, yang terletak tepat di depan taman bunga yang indah dan sejuk itu. Sesampainya di ruangan itu, mereka segera membicarakan tentang program studi banding itu.
“Kebetulan hari ini kami sedang mengadakan kegiatan kebersihan lingkungan. Jo bisa langsung mengikuti kegiatan ini secara langsung”
“Baiklah. Kami akan menyuruh Jo untuk segera bersiap-siap. Jo, anda akan segera memulai kegiatan ini.”
Jo segera melangkah mengikuti langkah Ustad Sofyan menuju asrama tempat dimana ia akan tinggal selama beberapa waktu untuk menjalani program studi bandingnya itu. Sebuah ruangan yang bisa di bilang cukup sempit bagi Jo, yang biasanya bertempat tinggal di sebuah rumah yang sangat mewah dan luas, kini harus tergantikan oleh ruangan yang berukuran kurang lebih 4X5 meter dan di isi oleh empat tempat tidur. Dindingnya bercatkan warna kuning gading yang terlihat kalem, tak ada pernak-pernik atau hiasan yang tertempel di sana. Sebuah jendela yang menghadap keluar taman dengan hiasan gordyn yang cukup tua, menambah gambaran kesederhanaan yang luar biasa. Tak ada peralatan elektronik atau mesin canggih yang biasanya menemani keseharian dalam kehidupannya.
Pak Bani, supir Jo, segera menurunkan barang-barang Jo yang akan ia butuhkan selama tinggal di pesantren itu. Laptop, televisi flat, Play Station 3, MP4, komik-komik anime Jepang, Novel-novel terjemahan seperti; Harry Potter, novel karangan Agatha Christie, dan Torrey Hayden. Beberapa kopor baju, celana dan aksesoris mahal lainnya. Bu Nadia sampai geleng-geleng kepala melihat semuanya.
“Saya hanya mengantisipasi ini semua. Saya tahu keadaan di sini pasti akan seperti ini. Jadi saya juga sudah mempersiapkan semuanya.”
>oOo<
Siang itu, Jo turut serta dalam kegiatan kebersihan lingkungan. Tetapi, seperti yang sudah bisa ditebak, Jo hanya duduk terdiam di bangku taman, sambil mendengarkan music dari MP4-nya dan membaca novel Harry Potter ke 4. Seorang santri yang dari tadi berpeluh karena membersihkan taman, menghampiri Jo dengan senyumnya yang ramah.
“Assalamualaikum!” Sapanya dengan ramah.
Jo terdiam. Dia pura-pura tak mendengar, atau sengaja mengacuhkannya.
“Assalamualaikum!” Sapanya untuk yang kedua kali.
Jo membuka headphone-nya, dan mulai merespon kata-kata santri itu. “Apakah semua orang di sini harus mengatakan ucapan basa-basi itu?”
Santri itu hanya tersenyum manis dan berkata dengan sabar. “Saya Fachri. Kata-kata itu bukan sekedar kata basa-basi. Tapi itu kalimat yang diucapkan ketika kita menyapa seseorang. Dan kata-kata itu penuh dengan makna untuk mendoakan. Kau adalah santri yang ikut program studi banding ke sekolah kami itu ya? Ustad Sofyan yang memberitahu kami!”
“Apa pedulimu? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai murid untuk tinggal di tempat yang membosankan ini selama beberapa waktu.”
Lagi-lagi Fachri tersenyum mendengar komentar Jo. “Ini bukan tempat yang membosankan. Setelah kau mengenalnya, ini akan jadi tempat yang paling berkesan dalam hidupmu. Oh ya, tadi kau belum menyebutkan namamu?”
“Aku Jo. Jonathan Alejandro Marvelino Abigasta.” Jo menyebutkan namanya secara lengkap untuk menunjukkan bahwa dirinya aadalah seorang keturunan dari Abigasta.
“Aku Muhamad Fachri Alfarisyi. Kau tinggal di asrama nomor berapa?”
“234”
“Kau tahu tidak, itu berarti kau sekamar denganku!”
Jo hanya tersenyum kecil dan tidak terlalu memperhatikan kalimat yang dibicarakan oleh Fachri. Jo melanjutkan mendengarkan MP4-nya dan meneruskan novelnya. Fachri mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Jo sebagai bahan obrolan. Seperti biasa, Jo tidak terlalu mempedulikan. Tetapi, entah mengapa sedikit demi sedikit Jo mau sedikit mengurangi rasa arogansinya itu. Jo mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Fachri walaupun dengan jawaban yang singkat.
(To be continued....)
(To be continued....)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar