Cinta Coklat Valentine
Stefani tiba-tiba menemukan sebuah bungkusan kantung plastik hitam tergantung di motornya. Betapa terkejutnya ia ternyata isi dari bungkusan misterius itu adalah Coklat Valentine. Awalnya ia tidak mengetahui siapa yang memberi kejutan semanis itu tepat di hari valentine. Tapi tak berselang lama kemudian, ia mengetahui siapa yang memberikan kejutan itu. Orang itu adalah Alfa, seseorang yang selama ini ia taksir. Selama ini mereka memang bersahabat. Tetapi keduanya tidak mengetahui bahwa mereka berdua ternyata memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Dan bermula dari coklat valentine itu, Alfa mulai berani menunjukan perasaannya yang sesungguhnya pada Stefani.
Kebetulan, siswa kelas XI SMA Negeri 2 Cimahi mengadakan Study Tour ke Kota Jogjakarta. Stefani bersama teman-teman satu gengnya yaitu Alvis, Sita, Cita, Rena dan Raisa tidak mau ketinggalan untuk mengikuti euporia liburan yang langka itu. Berawal dari berangkat ke Kota Jogjakarta dengan berada di dalam satu bus yang sama, Alfa merecanakan suatu hal yang sangat penting. Ia berpikir bahwa liburan kali ini adalah sesuatu yang berkesan apabila ia menyatakan perasaannya pada Stefani. Dengan bantuan Faris, sahabatnya, Alfa mulai merencanakan hal itu. Disaat ia dilanda rasa galau, dilema dan bingung antara ia akan melakukannya atau tidak, Faris terus menerus memberinya semangat dan dukungan penuh untuk sahabatnya itu.
Dan akhirnya, peristiwa itu terjadi juga. Di hotel tempat mereka menginap, Alfa menyatakan perasaannya pada Stefani. Meski ia sempat merasa kecewa dan putus asa karena ada banyak gangguan teknis dan semacamnya, Alfa tetap merasa ia perlu menyatakan perasaannya itu pada Stefani dan membuktikan padanya bahwa ia benar-benar tulus mencintai Stefani. Stefani merasa terharu, dan memang pada dasarnya Stefani juga memiliki perasaan yang sama dengannya, maka Stefani pun mau menerima cinta Alfa dan menjadi pacarnya.
Naskah Drama Cinta Coklat Valentine
Babak 1
Sore itu tampak cerah. Stefani langsung menghambur keluar kelas bersama Sita, Alvis dan Riri. Dengan sedikit terburu-buru mereka berjalan cepat menuju ke tempat parkir. Mereka harus membeli kue tart untuk ulang tahun Raisa keesokan harinya.
Stefani : “Aduh! Dimana aku meletakkan kunci motorku tadi?” (Membongkar isi tas)
Sita : “Coba cari dulu, ingat-ingat dimana tadi pagi kamu meletakkannya?” (Membantu membongkar tas Stefani)
Riri : “Sudah kuperingatkan berapa kali, Fan? Jangan ceroboh meletakkan benda-benda penting semacam itu!” (Agak kesal, sembari membongkar tas Stefani juga)
Stefani : “Ini dia! Alhamdulillah ketemu!” (Mengangkat kunci motor keatas tangan)
Alvis : “Yasudah. Ayo kita berangkat sekarang juga. Kita tidak mau kan toko kuenya tutup sebelum kita sempat membeli?”
Mereka akhirnya sampai ditempat parkir. Cepat-cepat Stefani menghampiri motor birunya. Alvis mengikutinya dari belakang karena akan membonceng Stefani. Ketika akan memakai helm, Stefani melihat sebuah bungkusan kantung plastik hitam tergantung di motornya dan ia tidak tahu apa isi dari bungkusan misterius itu.
Stefani : (Melihat bungkusan dengan curiga, sambil berkata dalam hati) “Seingatku, aku tidak pernah meletakan kantung plastik ini dimotorku. Bungkusan apa ini ya? Milik siapa?”
Alvis : “Ada apa, Fan? Kamu terlihat bingung?” (Melihat kearah bungkusan) “Apa itu?”
Stefani : “Justru itu, Vis. Aku sendiri nggak tahu apa isi bungkusan ini. Seingatku, tadi pagi aku tidak meletakkan apapun dimotorku ini. Atau jangan-jangan…..” (Dengan mimik wajah tegang)
Alvis : “Jangan-jangan bungkusan itu berisi potongan tubuh korban mutilasi yang kasusnya sedang heboh di TV!!!” (Dengan mata sedikit melotot. Menakuti Stefani)
Stefani : (Panik) “Apa benar, Vis?? Lalu, harus kuapakan bungkusan ini? Aku tidak mau terlibat dengan kepolisian!” (Memegang bungkusan dengan tangan gemetar)
Alvis : “Tenang dulu, Fan. Aku hanya bercanda. Coba kamu buka dulu bungkusan itu”
Stefani : (Membuka bungkusan dengan perlahan. Kemudian mengintip dengan hati-hati) “Aaaaaaaaaaaa!!!!!!!!” (Berteriak)
Alvis, Sita dan Riri : (Berlari menghampiri Stefani)
Sita : “Ada apa, Fan? Kamu nggak apa-apa?”
Stefani : (Menyodorkan bungkusan ke Alvis, Sita dan Riri) “I…iini….”
Alvis, Sita dan Riri : (Merebut bungkusan dari tangan Stefani dan langsung melihat isinya) “Cieeeee!!!!” (Melihat kearah Stefani)
Ternyata bungkusan itu berisi dua buah permen kapas dan yang lebih mengejutkan adalah sebuah coklat berbentuk hati dengan warna pink, warna kesukaan Stefani. Bahkan dia nyaris lupa kalau ternyata hari itu adalah Hari Valentine.
Riri : “Coba buka isinya! Bongkar semuanya. Siapa tahu da surat cinta didalamnya!”
Alvis : “Ini! Aku menemukannya! Aku bacakan ya?” (Membacakan isi surat yang terselip dibungkusan itu) “To: Stefani. I hope you glad and happy with my chocolate and my koala :D! Happy Valentine’s Day J . A.L.”
Sita : “Cieee! Selamat ya, Fan! Kamu sudah mendapatkan kejutan semanis ini dari seseorang, walaupun misterius. Asal jangan lupa traktiran!” (Tersenyum jahil)
Alvis dan Riri : “Siaaap! Jangan lupa traktiran ya sobat!”
Tiba-tiba Faris datang ke tempat parkiran itu.
Faris : (Datang secara tiba-tiba dengan menaiki motor) “Cieeee Stefani! Dapat kejutan di Hari Valentine ini ya? Kalo bisa tebak siapa dia! Hahaha!” (Pergi dari tempat itu sambil tertawa puas)
Babak 2
Sepanjang sore itu Stefani tak henti-hentinya memikirkan siapa yang meletakkan coklat valentine itu dimotornya. Penasaran, sekaligus senang. Sampai dirumah, ia langsung mengunci dirinya didalam kamar. Berkali-kali ia membaca surat yang ada didalam bungkusan itu.
Stefani : (Berkata dalam hati) “A.L? Siapa dia? (Membolak-balik surat itu) “Aku tidak mau memakan coklat ini sebelum aku mengetahui siapa orang yang memberikan ini padaku!” (Menyimpan bungkusan itu diatas meja belajar) “Tapi siapa dia??? Aku penasaran sekali! Aduh, bagaimana ini? Bagaimana cara mengetahui identitas si-pengirim-coklat-misterius ini? Aku galau…..” (Ia terus berpikir. Siapa saja seseorang yang memiliki inisial A.L.) “Ah! Sepertinya aku tau inisial itu! Tapi, mengapa tadi Faris tahu tentang bungkusan ini ya? Apa hubungannya Faris dengan bungkusan ini?”
Tiba-tiba handphone Stefani berdering. Sebuah nomor muncul dengan nama kontak Alfa Lesmana.
Stefani : (Membaca isi sms didalam hati) “Aku tidak salah meletakkan coklat itu dimotormu. Selamat Hari Valentine J!” (Terkejut, mata menerawang)
Ternyata si pengirim coklat valentine misterius itu adalah Alfa. Seseorang yang selama ini dia taksir. Dengan perasaan yang setengah tidak percaya, ia mencoba memberanikan diri untuk membalas sms itu.
Stefani : (Mengetik sms di handphone) “Terima kasih ya atas coklatnya. Aku senang ada seseorang yang memberiku coklat dihari valentine ini J”
Babak 3
Keesokan harinya, Stefani menceritakan semua kejadian yang dialaminya malam hari kemarin. Karena pada hari itu mereka ulangan fisika, Stefani tidak langsung bisa dengan cerewetnya menceritakan semuanya saat itu juga. Dia harus pusing dengan soal fisika buatan Bu Ida yang aduhai sulitnya itu.
Alvin : (Melirik kearah Alvis sambil berbisik-bisik kecil) “Psst! Alvis!” (Mengisyaratkan bahwa ia bertanya jawaban nomor 8)
Harry : “Maaf, Bu. Saya izin ke belakang”
Bu Ida : “Silakan” (Sambil terus memantau keadaan murid-murid yang notabene saling bekerjasama)
Sita : (Melirik kearah Bu Ida) “Aman!” (Berkata pada Riri)
Riri : (Menggeserkan lembar jawaban ke sebelah kanan, disamping tangannya agar terlihat oleh Sita)
Stefani : (Menyiku tangan Cita, teman sebangkunya) (Berkata sambil berbisik) “Cit, nomor 4 sudah?”
Cita : (Mengangguk) (Menggeserkan lembar jawabannya kearah Stefani)
Bu Ida : (Berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu)
Semua : (Siap beraksi untuk mencontek)
Tiba-tiba, bel berbunyi.
Bu Ida : “Baiklah anak-anak. Waktu kalian habis, silakan kumpulkan lembar jawabannya”
Semua : “Aaaaaaa! Tidak!!!!” (Terang-terangan mencontek)
Bu Ida : “Sudah, sudah. Waktu kalian sudah habis. Silakan kumpulkan lembar jawaban dan lembar soal di meja guru. Setelah itu kalian boleh keluar ruangan”
Semua : “Kami belum selesai, Bu. Soalnya susah sekali” (Sambil saling menyalin jawaban teman)
Bu Ida : “Ulangan kalian kali ini harus tuntas, karena jika ada yang tidak tuntas, kalian semua akan Ibu beri kesempatan untuk remedial di Jogjakarta” (Tersenyum jahil) (Mengambil lembar jawaban dan soal semua murid dan keluar ruangan)
Semua : “Apaaa???” (Pasrah, wajah terlihat lesu)
Stefani : (Menghampiri kursi tempat Alvis, Sita, Riri, Rena dan Raisa duduk) “Hey kalian! Sudahlah jangan lesu seperti itu. Toh kita masih bisa remedial di Jogjakarta. Aku mau bercerita sesuatu tentang kejadian kemarin!”
Raisa : “Iya, kami berdua juga sudah tau apa yang terjadi padamu kemarin” (Melirik kearah Rena) “Pasti kamu sangat senang kan mendapatkan kejutan seperti itu”
Stefani : “Pastinya! Dan yang lebih mengejutkan lagi, aku sudah tau siapa orang misterius yang sudah mengirimkan coklat itu padaku!” (Tersenyum)
Alvis, Sita, Riri, Rena dan Raisa : (Kaget) “Siapa????” (Serentak)
Stefani : “Kalian pasti tidak menyangka siapa orang yang memberikan coklat itu padaku. Karena aku sendiri juga tidak percaya dia yang memberikan coklat itu padaku. Kalian pasti ingat, kemarin di surat itu tercantum inisial A.L kan? Itu Alfa!”
Rena : “Darimana kamu tahu kalau Alfa yang memberikan coklat itu padamu?”
Stefani : “Pertama, inisial surat kemarin. A.L, itu singkatan dari Alfa Lesmana. Kedua, Faris mengetahui tentang bungkusan itu yang kemarin aku temukan di tempat parkir. Dan kalian tahu kan, Faris itu sahabat dekat Alfa. Dan yang paling meyakinkan, kemarin Alfa mengirimiku sms yang isinya memberitahuku kalau ia yang meletakkan coklat itu dimotorku” (Mengeluarkan HP, membuka sms Alfa yang tadi malam)
Sita : (Mengambil HP Stefani dan membaca isi smsnya) “Oh, jadi ternyata Alfa yang memberikan coklat misterius itu? Pantas saja kamu terlihat bahagia sekali pagi ini walaupun ulangan fisika mengancam hidup dan mati kita”
Riri : “Menurutku, kalau Alfa memberikan coklat valentine pada Stefani pada Hari Valentine kemarin, itu artinya ada sesuatu, Fan!”
Stefani : (Bingung)
Alvis : “Pasti kamu tidak mengerti. Sini biar aku jelaskan. Kamu ingat kan kemarin adalah hari valentine?” (Stefani mengangguk) “Nah, jika seorang laki-laki memberikan coklat valentine kepada seorang gadis di hari hari valentine, itu artinya dia punya perasaan lebih padamu, Fan!”
Stefani : (Tersenyum dengan wajah yang memerah. Alvis, Sita, Riri, Rena dan Raisa meledeknya. Sepanjang pelajaran dihari Rabu itu, Stefani tidak bisa berkonsentrasi penuh. Ia hanya tersenyum mengingat kata-kata temen-temannya tadi. Dan itu membuat Cita, teman sebangkunya, menjadi sedikit khawatir padanya)
Babak 4
Kejadian mengejutkan tempo hari masih membuat jantung Stefani berdetak lebih cepat setiap kali ia mengingatnya. Apalagi ketika ia mengingat kata-kata Riri dan Alvis yang membuatnya semakin penasaran sekaligus berbunga-bunga. Siang itu, bel istirahat berbunyi. Waktunya mereka untuk menunaikan ibadah Sholat Dhuhur. Setelah mereka semua selesai sholat dhuhur, merekapun keluar dari area masjid.
Riri : (Berdiri setelah memakai sepatu. Melihat kearah bawah masjid, dan berkata dalam hati) “Sepertinya itu Alfa dan Faris. Mengapa mereka sembunyi-sembunyi sambil melihat kearah sini?” (Berbisik pada Sita dan Alvis) “Sit, coba kamu lihat kebawah. Itu kan Alfa dan Faris. Mengapa mereka daritadi terus melihat kearah sini?”
Sita : (Melihat kearah bawah) “Iya benar. Aku tahu. Pasti dia sedang melihat Stefani. Stefani!!!” (Memanggil Stefani dengan suara keras)
Alfa : “Ayo cepat kita pergi dari sini!” (Menarik Faris dan memaksanya untuk pergi dari tempat itu)
Sita : “Benar kan? Aku bilang juga apa, Alfa pasti sedang memperhatikan Stefani”
Stefani : (Selesai memakai sepatu. Berdiri dan menghampiri Sita dan Riri) “Ada apa Sita? Tadi kamu memanggilku?”
Sita : “Tadi Alfa memperhatikanmu dari jauh, Fan. Apa kamu tidak merasa? Begitu aku memanggil namamu, dia langsung kabur bersama Faris”
Stefani : (Tertunduk malu. Lagi-lagi mukanya memerah. Ia merasakan hatinya berbunga-bunga. Sambil meneruskan langkahnya, ia menuruni tangga)
Alvis : “Stefani! Itu ada Alfa! Ayo jalan lebih cepat lagi!” (menarik tangan Stefani) “Kamu harus mengucapkan terima kasih padanya”
Tiba-tiba HP Stefani berbunyi. Faris mengiriminya sms.
Stefani : (Membaca sms dalam hati) “From: Faris. Pasti kamu sudah mengetahui siapa yang memberimu coklat kemarin. Sekarang kamu harus mengucapkan terima kasih secara langsung padanya. Dia ada didepanmu. Ayo Stefani, kamu pasti bisa! J” (Melihat kearah depan. Ternyata benar, disana ada Alfa)
Alvis, Sita dan Riri : (Mendorong Stefani agar berjalan lebih cepat, kemudian pergi meninggalkan Stefani)
Stefani : (Gugup) “Ehmm, terima kasih atas coklatmu kemarin. Aku senang ada yang memberiku coklat di hari valentine….”
Alfa : “Oh, iya. Sama-sama. Aku lega ternyata aku tidak salah meletakkan coklat itu dimotor kamu. Aku juga senang kamu mau menerima coklat itu.” (Tersenyum)
Stefani : (Mengangguk kecil, sambil tersenyum. Tiba-tiba bel berbunyi) “Sepertinya sudah bel. Aku harus masuk kelas. Aku duluan ya, sekali lagi terima kasih” (Tersenyum pada Alfa, kemudian berjalan menuju kelas sambil tetap tersenyum dan muka memerah)
Alfa : “Iya, sama-sama…” (Tersenyum memandangi Stefani)
Babak 5
Sesampainya dikelas, Stefani masih tersenyum karena tadi sudah bertemu dengan Alfa, sekalligus mengucapkan terima kasih padanya sudah memberikan kejutan manis di hari valentine itu. Tiba-tiba Ibu Yuli, guru olahraga masuk kedalam kelas untuk memberikan suatu pengumuman.
Ichsan : (Maju kedepan kelas, sambil tangan member isyarat agar semua murid diam) “Sssst!!! Tenang dulu semuanya, ada pengumuman dari Ibu Yuli”
Ibu Yuli : “Terima kasih. Saya akan memberikan pengumuman tentang rencana Study Tour kalian ke Jogjakarta besok. Ini jadwalnya tolong dibagikan satu persatu” (Memberikan setumpuk kertas jadwal pada Ketua Murid untuk dibagikan kesemua murid) “Tenang anak-anak, masih ada beberapa pengumuman yang perlu kalian perhatikan. Pertama, kalian harus berkumpul di depan Pura paling lambat pukul 04.30. Jangan ada yang terlambat, ingat itu. Yang kedua, bawa barang-barang kalian seperlunya, dan bawa barang-barang pribadi kalian seperti obat pribadi. Dan yang terakhir adalah….., tunggu sebentar.” (Membolak-balik buku catatan kecil) “Mana ya? Oh, ini dia. Karena jumlah siswa yang ikut dikelas XI IPA 5 ini ada 30 orang, maka kalian akan satu bis dengan kelas XI IPS 1.”
Stefani : “Yes!!!” (Beteriak kecil disaat kelas dalam keadaan hening, sambil berdiri dan kegirangan)
Ibu Yuli dan Semua Murid : (Melihat kearah Stefani dengan ekspresi heran)
Stefani : (Memandangi sekitarnya dan tersadar ternyata semua orang memandanginya. Ekspresi wajahnya murung dan kembali duduk dikursinya)
Ibu Yuli : (Menggeleng-gelengkan kepala, heran) “Sebelumnya ada yang ingin kalian tanyakan?”
Semua : (Terdiam, saling memandang satu sama lain)
Ibu Yuli : “Baiklah, jika sudah tidak ada yang ditanyakan lagi. Ohya, satu pengumuman lagi. Kalian bisa menghubungi contact person yang nomornya ada dilampiran belakang jadwal jika terjadi sesuatu. Terima kasih.” (Berjalan meninggalkan kelas)
Babak 6
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh semua angkatan kelas XI datang juga. Hari ini adalah hari keberangkkatan Study Tour ke Jogjakarta. Bahkan saking semangatnya, Stefani menghitung dari H-40. Dan yang paling menyenangkan baginya adalah dia bisa satu bus dengan Alfa. Sore itu hujan deras. Stefani sedikit kesulitan menemukan bus 4, bus yang akan membawanya pergi ke Jogjakarta.
Mama : “Yakin ini busnya? Coba kamu masuk dulu ke busnya, tanya sama teman-temannya.”
Stefani : “Iya, Ma.” (Masuk kedalam bus. Melihat sekeliling. Ternyata disana sudah ada Sita, Raisa, Rena dan Alfa. Melambaikan tangan pada mereka) “Tunggu sebentar ya, aku mau pamitan dulu sama Mama.” (Kembali turun dari bus)
Stefani : “Ini memang bus 4, Ma. Tadi Stefani sudah melihat teman-teman Stefani didalam bus.” (Sambil menggendong tas besarnya)
Mama : “Oh, yasudah. Ada yang tertinggal? Cek satu-satu barang yang dibawa, nanti ketinggalan. HP, dompet, charger, kamera digital, obat, minyak kayu putih, semuanya sudah dibawa kan?”
Stefani : “Sudah, Ma. Semuanya sudah Stefani bawa. Stefani berangkat dulu ya Ma! Mama hati-hati dirumah.” (Sambil mencium tangan dan pipi Mama) “Dadaaa Mamaaa!” (Masuk kedalam bus dan melambaikan tangan pada Mama)
Mama : “Kamu juga hati-hati ya sayang. Dadaaa…!!!” (Melambaikan tangan ke Stefani dari luar bus. Kemudian pergi)
Sita : “Tumben kali ini kamu tidak terlambat, Fan? Biasanya kamu itu paling rajin. Rajin terlambat! Hahaha!” (Tertawa, Rena dan Raisa pun ikut tertawa)
Stefani : (Cemberut) “Kali ini berbeda, aku tidak akan terlambat untuk hal-hal menyenangkan semacam ini.” (Meletakkan tasnya dibagasi atas kursi)
Alfa : (Melihat Stefani dengan ujung mata)
Sita : “Kamu duduk disini saja dengan aku. Kebetulan kursinya bertiga. Jadi Cita bisa duduk disini juga.” (Menunjukkkan tempat duduk)
Stefani: “Boleh. Memangnya kamu tidak duduk dengan Riri? Dia kan teman sebangkumu?” (Melepas jaket yang basah karena terkena air hujan)
Sita : “Riri tidak jadi ikut karena keperluan mendadak. Padahal sayang sekali ia tak bisa ikut bersenang-senang di Jogja nanti.”
Stefani : “Iya, sayang sekali dia tak bisa ikut bersama kita. Yasudahlah, nanti kita memberinya oleh-oleh saja.”
Rena, Raisa dan Sita : (Mengangguk)
Bu Endah : (Masuk kedalam bus. Berdiri disamping kursi Alfa yang sendirian) “Anak-anak tempati kursi yang masih kosong bersama teman-teman kalian. Sebentar lagi bus akan berangkat.”
Irma : “Maaf, Bu. Tempat duduknya sudah penuh. Tadi saya datang sedikit terlambat.” (Masih menggendong tas)
Bu Endah : “Makanya, lain kali kamu jangan terambat lagi. Ini resikonya kan?” (Memandang sekitar) “Ini, kursi ini kosong. Kamu duduk dikursi ini saja.” (Menunjukan kursi kosong sebelah Alfa)
Irma : (Duduk disamping Alfa)
Stefani : (Terdiam sambil melihat mereka dengan tatapan sinis. Cemburu)
Sita, Rena dan Raisa : (Mengipas-ngipas tubuh Stefani) “Sabar, Fan. Sabar….” (Dengan sedikit berbisik)
Irma : “Tidak apa-apa kan kalau aku duduk disebelah kamu, Al? Ada yang cemburu nggak?”
Alfa : (Melihat kearah Stefani) “Entahlah. Yasudahlah, sudah terlanjur. Duduk sajalah. Semoga saja dia cemburu…..” (Tertawa jahil)
Stefani : (Menatap dengan sinis setiap kali melihat kearah mereka. Kebetulan Alfa duduk di barisan depan dan Stefani duduk dibarisan tengah. Jadi Stefani terus cemburu melihat mereka duduk berdua. Sambil berkata dalam hati) “Siapa sebenarnya gadis itu? Pacarnya?” (Mulai galau) “Kenapa harus dia yang duduk dengan Alfa? Kenapa tidak aku saja??” (Bersandar kepunggung kursi) “Sudahlah. Apa hak ku sampai cemburu seperti ini? Dia bukan siapa-siapaku, dan aku juga bukan siapa-siapanya. Kenapa aku harus cemburu dan kesal melihat mereka berdua? Toh hanya duduk….” (Pasrah. Mengeluarkan HP dan mengetik sms pada Faris yang berbeda bus dengannya) “Ris, aku galau. Kamu kenal dengan Irma?”
Faris : (Isi sms) “Kenal. Dia murid kelas XI IPS 1 juga. Galau kenapa? Apa ada masalah dengan Alfa?”
Stefani : (Membalas sms Faris) “Alfa duduk dengan Irma. Kamu pasti tahu bagaimana perasaanku sekarang L”
Faris : (Isi sms) “Apa?? Alfa duduk dengan Irma? Iya, aku mengerti perasaanmu, Fan. Aku akan mencoba membicarakan hal ini pada Alfa. Tenang saja.”
Stefani : (Membalas sms Faris lagi) “Jangan. Aku tidak berhak untuk cemburu seperti ini. Sudah lupakan saja. Ini bukan masalah penting.”
Faris : (Isi sms) “Tidak. Ini masalah penting. Alfa harus tahu perasaanmu, Fan.”
Stefani : (Mendiamkan HPnya yang terus berbunyi. Faris terus mengiriminya sms, tetapi tidak dibalas. Terdiam sambil memandangi HP ditangannya. Sesekali melihat kearah Alfa dan Irma dengan tatapan yang putus asa)
Murid XI IPA 5 : (Bersenda gurau didalam bus. Duduk di barisan belakang bus. Bercanda, makan snack, bermain gitar, bernyanyi dan berfoto-foto. Stefani hanya memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur)
Alfa : (Mengetik sms untuk Stefani) “Dibelakang berisik sekali ya? Pasti sulit untuk tidur J” (Berkata didalam hati) “Kenapa dia tidak membalas smsku? Apa dia sudah tidur? Atau, dia marah padaku?” (Galau. Membuka akun twitter dari HPnya, dan menulis sebuah status) “Smsku nggak dibalas. Mungkin dia sudah tidur L” (Kembali melihat kebelakang, kearah Stefani) (Stefani tertidur) (Alfa tersenyum, dan kembali menulis sebuah status di akun twitternya) “Meski tertidur, kamu tetap terlihat manis J”
Alvis : (Membuka akun twitter dan membacat status Alfa. Kemudian tersenyum jahil pada Alfa dan Stefani. Berkata dalam hati) “Kena kau Alfa! Hahaha!”
Babak 7
Sekitar puku 10.00, mereka sudah sampai dirumah makan. Sita membangunkan Stefani dan Cita yang masih tertidur untuk turun dari bus untuk sarapan pagi dan mandi.
Sita : “Fan, bangun. Kita sudah sampai dirumah makan.” (Mengguncang-guncangkan tubuh Stefani) “Cit, bangun.” (Mengguncangkan tubuh Cita)
Stefani : (Mengucek-ngucek matanya. Menguap. Mengambil peralatan mandi dan baju ganti dengan mata yang masih mengantuk. Mereka bertiga berjalan kearah toilet restoran untuk mandi)
Sita : “Antreannya masih panjang. Pasti akan lama. Bagaimana kalau kita sarapan saja dulu?”
Stefani : (Mengangguk. Masih mengantuk)
Stefani, Sita dan Cita : (Mengambil makanan. Duduk disatu meja yang sama)
Sita : “Begini kalau sudah macet. Jadwal jadi berantakan. Harusnya kita sampai disini sudah dari jam 06.00 pagi tadi!” (Sambil menyendok makanan)
Cita : “Yasudahlah. Namanya juga macet. Kejadian tidak terduga. Yang penting sebentar lagi kita sampai di Candi Borobudur.” (Melihat kearah Stefani yang masih mengantuk) “Fan, Fan. Kamu itu sudah tidur paling pulas semalaman, masih saja belum bisa bangun.” (Menggeleng-geleng kepala)
Stefani : (Melihat Cita dengan wajah datar dan mengantuk)
Tiba-tiba datang Alfa, Faris dan Irvan
Faris : (Mengedipkan mata sebelah pada Alfa, mengisyaratkan untuk duduk disamping Stefani)
Alfa : (Mengangguk. Duduk disebelah Stefani) “Hey, Stefani!” Kamu kenapa? Kamu sakit ya? Kamu kelihatan lesu, nggak bersemangat. Pusing ya?” (Melihat Stefani)
Stefani : (Kaget) “Hah? Pusing? Enggak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit mengantuk saja.” (Berusaha untuk bangun. Tersenyum pada Alfa)
Alfa : “Baguslah. Aku pikir kamu sakit. Kamu terlihat pucat dan kurang bersemangat.”
Stefani : “Aku tidak apa-apa. Aku hanya masih mengantuk dan….. Aku belum mandi hehehe!” (Tersenyum malu) “Soalnya antreannya panjang. Untuk mengefektifkan waktu jadi kami makan dulu.”
Sita : “ Itu hanya alasanmu saja kan, Fan? Bilang saja malas mandi.” (melirik kearah Stefani) (Stefani merajuk) “Iya, Stefani. Aku hanya bercanda. Oke, mari sekarang kita mandi!” (meninggalkan meja makan)
Stefani : “Duluan ya semuanya. Aku mau mandi dulu.” (Berjalan mengikuti Sita meninggalkan meja makan)
Faris : “Jadi bagaimana rencanamu nanti, Al? Apa perlu bantuanku?”
Alfa : “Hah? Rencana apanya? Memangnya apa yang kurencanakan? Aku tidak mengerti maksudmu.” (Membenarkan kacamatanya, sedikit gugup)
Faris : “Sudahlah. Kamu tidak usah pura-pura lupa apalagi pura-pura tidak tahu tentang rencanamu itu. Kemarin kamu sendiri yang bilang ke aku tentang rencana itu. Masa tiba-tiba lupa mendadak begini? Tidak mungkin, Al!” (Menyendok makanan)
Alfa : “Sssst! Jangan terlalu keras. Dia masih ada disini!” (Melihat kearah Stefani) “Aku sendiri tidak tahu rencana itu mungkin aku lakukan atau tidak. Aku jadi bingung, Ris.” (Memainkan sendok)
Faris : “Ehmm, pasti kamu sedang galau. Sudahlah, jangan galau terus, sobat.” (Menepuk bahu Alfa)
Alfa : “Kita lihat sajalah nanti akan terjadi atau tidak.” (Lesu. Melanjutkan makan)
Babak 8
Setelah puas mengelilingi objek wisata Candi Borobudur, rombongan Study Tour siswa SMA Negeri 2 Cimahi melanjutkan perjalanan menuju hotel. Meskipun cuaca dikota Jogjakarta bersuhu panas dan berbeda dengan suhu yang mereka rasakan setiap hari dikota Cimahi, itu tidak mengurangi keceriaan mereka semua untuk menikmati liburan ini. Sesampainya dihotel, Stefani, Alvis, Sita, Raisa dan Rena langsung menyerbu kamar hotel, karena kebetulan mereka satu kamar. Tas, koper, ransel dan semua persediaan makanan mereka semua tergeletak diatas lantai dan spring bed. Karena kamar mandi hanya tersedia satu dalam satu kamar, mereka terpaksa berebut giliran mandi. Tapi untungnya mereka bisa selesai tepat waktu dan berkumpul didepan hotel untuk bermalam minggu di Malioboro.
(Di Malioboro)
Faris : (Turun dari bis. Berjalan menuju parkiran bersama Alfa) “Al, kamu sedang memegang kamera digital-ku kan? Kenapa tidak kamu coba untuk memfoto dia? Itu dia disana!” (Menunjuk Stefani) “Cepat, Al. Foto dia!”
Alfa : “Iya, iya. Aku juga mau melakukannya. Sebentar dulu. Aku mau mencari posisi yang pas agar bisa menangkap gambarnya!” (Memposisikan kamera kearah Stefani. Mengambil gambar Stefani. Jepret! Tiba-tiba Ade lewat didepan kamera Alfa) “Yah! Justru Ade yang tertangkap kamera! Ah!” (Kesal)
Faris : “Mana coba lihat hasilnya!” (Merebut kamera dari tangan Alfa) “Wah, bagaimana kamu ini? Mau mengambil foto Stefani atau Ade? Coba sekali lagi!” (Memberikan kamera ke Alfa)
Alfa : “Dia sudah menyebrang jalan. Ayo cepat kita kejar dia!” (Mengejar Stefani dan ikut menyebrang jalan. Menyiapkan kamera, bersiap untuk memfoto Stefani) “Satu, dua, ti…..” (Tiba-tiba baterai kameranya lemah. Kamerapun mati seketika) “Ah! Baterainya lemah! Padahal aku sudah hampir dapat fotonya! Bagaimana kamu ini, Ris? Menyuruh memfoto Stefani tapi baterai kameramu habis!” (Berjalan dengan langkah gontai)
Faris : “Hah? Yang benar saja? Masa baterainya sudah habis lagi?” (Merebut kamera dari tangan Alfa dan mencoba menyalakannya tetapi tidak bisa) “Iya. Sepertinya baterainya memang sudah lemah. Maaf ya?”
Alfa : (Mengangguk perlahan)
Faris : “Sekarang kan kita sedang berada di Jogjakarta. Mengapa kamu tidak menyatakan perasaanmu yang sebenarnya pada Stefani? Ini bisa menjadi momen berharga untuk kalian berdua. Lagipula, menurutku Stefani juga memiliki perasaan yang sama denganmu.”
Alfa : “Iya. Aku juga sedang memikirkan hal itu. Pasti akan sangat berkesan jika aku menembaknya di kota Jogja ini. Tapi masalahnya, aku bingung bagaimana cara menyatakan perasaanku padanya, Ris.”
Faris : “Dengar, Al. Memang akan sedikit sulit untuk menyatakan perasaan kepada seseorang yang kita sayang. Tetapi, apa kamu tidak menyesal jika kamu membiarkan perasaanmu itu terpendam? Dan Stefani tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya kamu rasakan padanya jika kau tidak memberitahunya sekarang.”
Alfa : “Aku tahu itu, Ris. Tapi apa benar Stefani memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan? Aku tidak mau sakit hati lagi. Sudah cukup masa laluku membuat aku sakit.”
Faris : “Kamu harus harus optimis menjalani semuanya, Al. Dan aku yakin 100% Stefani memiliki perasaan yang sama dengan yang kau rasakan padanya. Masalah bagaimana menyatakan perasaan padanya, aku bisa bantu itu. Yang penting, kau harus yakin akan melakukannya.”
Alfa : “Baik. Aku yakin akan melakukannya. Terima kasih bantuanmu, kawan! Aku pasti akan galau sendirian jika kamu tidak mau membantuku.”
Faris : “Sama-sama, Sobat. Kita ini kan sahabat. Harus saling membantu!”
(Mereka berdua berjalan menyusuri jalan Malioboro yang ramai oleh pedagang dan pengunjung)
Babak 9
(Parkiran bus Malioboro, pukul 22.00. Rombongan Study Tour bersiap kembali kehotel)
Alfa : (Duduk termenung menghadap kebawah, arah jalan raya Malioboro)
Faris : “Oke, sekarang kamu harus menyiapkan mental dan dirimu untuk menyatakan perasaanmu pada Stefani nanti. Kalau kamu tenang, semuanya pasti berjalan dengan lancar.”
Alfa : “Tapi aku masih bingung, Ris. Aku juga deg-degan. Aku takut salah ngomong. Dan…. Aku takut jika semuanya gagal total. Pasti Stefani akan menjauhiku.”
Faris : “Baik. Untuk latihannya, anggap saja aku Stefani. Sedang berdiri dihadapanmu. Apa yang akan kau katakan padanya?” (Berdiri didepan Alfa)
Alfa : “Bedalah, Ris. Kamu ya kamu, Stefani ya Stefani. Pasti latihan ini tidak akan berhasil.” (Kembali merenung menatap kearah jalan raya)
Faris : (Kembali duduk dengan wajah cemberut)
Alfa : “Aku frustasi! Lebih baik aku bunuh diri saja! Aku mau loncat ke jalan raya itu!!!!” (Berdiri, bersiap untuk meloncat)
Faris : “Hah? Kau sudah gila ya, Al? Jangan melakukan hal bodoh semacam itu!” (Alfa kembali duduk) “Begini saja. Daripada kau melakukan hal yang tidak-tidak disini, lebih baik kita bicarakan lagi masalah ini dihotel saja.” (Menarik nafas. Mereka berdua masuk kedalam bus)
Babak 10
(Dihotel. Pukul 23.00)
Faris : “Al, sebaiknya kamu menelfon Stefani dulu.” (Melepas jaket)
Alfa : (Merebahkan diri dikasur) “Aku malu, Ris. Sekaligus galau. Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Gugup, galau, dilema dan…. Ah! Campur aduk!”
Faris : “Sudah. Simpan dulu semua perasaan tegangmu itu. Yang penting sekarang kau menelfon Stefani!” (Mengambil HP Alfa dan menghubungi Stefani)
Alfa : (Merebut HP dari Faris) “Nggak! Nanti saja, sampai perasaan tegangku ini surut.”
Faris : “Mau sampai kapan? Kalau begini terus sampai lebaran singa pun kamu tidak akan menelfon Stefani!” (Merebut HP dari Alfa lagi. Mencari nomor HP Stefani, dan kemudian menelfonnya) *tut tut tut* (Suara delay panggilan)
Stefani : (Mengangkat telefon) “Halo?”
Faris : (Memberikan HP pada Alfa)
Alfa : (Memegang HP dengan gugup) “Ehmm… Ha..halo! Stefani….”
Stefani : “Iya? Ada apa, Alfa?”
Alfa : “Aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu. Boleh minta waktunya sebentar?”
Stefani : (Berdebar. Keluar dari kamar, menghindari kerumunan teman-temannya)
Alvis : (Menguping ke dekat pintu kamar. Sita, Raisa, Rena dan Cita mtngikuti dibelakangnya) “Ssssttt! Jangan berisik! Aku mendengar sesuatu.” (Meletakkan telunjuk didepan mulut)
Stefani : “Boleh. Silakan saja. Apa yang ingin kamu katakan?”
Alfa : “Uhmm… Begini, Fan. Selama ini kita memang bersahabat. Kita sudah cukup lama mengenal satu sama lain, walaupun hanya sekedar bersahabat. Dan….. kamu pasti sudah mengetahui bagaimana perasaanku sesungguhnya sama kamu. Aku……” (Gugup, salah tingkah. Membasahi kaki ke wastafel, dengan air kran. Faris melihatnya dengan penuh keheranan) “Aku sayang kamu, Fan. Lebih dari sekedar sahabat. Dan…… aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar sahabat…..”
Stefani : (Berkaca-kaca. Setengah tidak percaya. Bermaksud ingin berbicara, tetapi tidak keluar suara)
Alfa : “Aku harap, perasaanmu juga sama dengan apa yang aku rasakan. Sekarang, aku bertanya padamu. Apa kamu merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan?”
Stefani : (Sangat gugup. Berbicara terbata-bata) “A..akuu.. ehmm… akuuu…” *tut tut tut* (Tiba-tiba sinyal terputus) “Halooo? Alfa? Kamu masih disitu?”
Alfa : “Halo? Stefani? Kamu bisa dengar aku? Halooo?? Ah! Sinyalnya jelek!” (Membanting HP)
Stefani : (Lesu. Wajahnya kecewa. Berjalan dengan gontai menuju kamar. Membuka pintu kamar)
Alvis, Sita, Cita, Rena dan Raisa : “Cieeeeee!!!! Bagaimana kelanjutan kisah cintamu??? Kita semua sudah tahu apa yang terjadi diluar barusan!”
Stefani : “Aku tidak tahu. Aku malas membahasnya.” (Merebahkan diri ke kasur. Menutup wajahnya dengan bantal)
Sita : “Sudah biarkan saja dulu. Mungkin kejadiannya tidak seperti apa yang dia harapkan.” (Melanjutkan bermain kartu UNO bersama yang lain)
(Sementara itu….)
Faris : “Bagaimana, Al? Apa yang terjadi? Mengapa kau kesal seperti itu?”
Alfa : “Gagal! Sinyalnya jelek sekali. Mood ku jadi rusak semua! Sepertinya aku harus mengurungkan niatku ini, Ris. Semuanya sia-sia saja!” (Melempar bantal ke lantai. Merebahkan diri keatas kasur)
Faris : “Jadi, hanya gara-gara sinyal terputus lalu rencana besar dalam hidupmu ini jadi batal? Gagal total begitu saja? Ini hanya masalah kecil, Al! Kamu tidak bisa menyerah sampai disini. Ini sudah setengah jalan. Tinggal sedikit lagi kamu pasti berhasil! Ingat kata pepatah, selesaikan apa yang sudah kamu mulai!!”
Alfa : (Memandang kearah Faris)
Faris : (Mengambil HP Alfa yang tadi dibanting. Kembali mencari nomor Stefani dan menghubunginya) “Kamu harus mencobanya sekali lagi, Al. Kesempatan tidak datang datang dua kali. Ingat, selesaikan apa yang sudah kamu mulai.”
Alfa : (Mengambil HP dari tangan Faris dan meletakkannya ditelinganya) *tut tut tuuuut* (Belum ada jawaban)
Stefani : (Mengangkat wajahnya dari bantal, dan melihat kearah telefon genggamnya. Hanya diam, tidak mengangkatnya)
Alfa : (Masih terus mencoba menelfon Stefani )
Stefani : (Masih terus diam, tidak mengangkat telefonnya)
Alvis : “Fan, kalau kamu ingin semuanya berjalan lancar, angkat telefon Alfa. Setidaknya kamu memberikan jawaban padanya, bukan hanya harapan kosong. Ayo angkat telfonnya, Fan!”
Alfa : (Hampir putus asa. Ketika akan menutup panggilannya, akhirnya Stefani mengangkat telfonnya)
Stefani : “Halo?” (Dengan suara lesu. Masih merebahkan diri diatas kasur. Raisa dan Cita keluar kamar)
Alfa : “Fan, bisakah kamu keluar sebentar? Ke halaman samping kamarmu, dibawah balkon lantai 2.”
Stefani : “Oke.” (Berjalan dengan perlahan kehalaman samping kamarnya, bawah balkon lantai 2)
(Tiba-tiba Raisa dan Cita berada dilantai 2)
Cita : “Alfa, sedang apa kamu disini? Mencurigakan!” (Bercanda)
Faris : “Sssstt! Alfa ingin menyatakan perasaan pada seseorang. Dia akan menembak Stefani!”
Raisa : “Iya. Aku sarankan secepatnya kamu tembak dia, Al. Kebetulan dia masih jomblo alias single. Tidak ada salahnya kalau kalian berpacaran.”
Alfa : (Melihat kebawah balkon) “Mana Stefani? Kalau dia tidak datang, aku terjun saja dari atas sini!” (Mendekat ke balkon)
Faris : “Jangan, Al! Jangan gila kamu. Sudah sabar dulu. Dia sedang dalam perjalanan. Dia pasti datang.”
Alfa : (Masih menunggu. Beberapa saat kemudian) “Kemana? Kenapa Stefani tidak muncul juga? Sudah cukup. Aku menyerah, Ris….” (Masuk kedalam kamar)
Faris : (Putus asa melihat Alfa. Ketika akan kembali ke kamar juga, ia melihat kebawah balkon. Ternyata Stefani datang) “Alfa! Stefani datang! Cepat kesini!” (Masuk kekamar berteriak memanggil Alfa)
Alfa : “Nggak. Aku tidak mau. Pasti kamu sedang bohong.” (Menutup diri dengan selimut)
Faris : “Alfa! Aku serius!! Apa kamu tega membiarkan seorang gadis menunggu? Ayo cepat cepat cepaaaat!!” (Berapi-api)
Alfa : (Berjalan dengan lesu)
Raisa : “Ayo Alfa! Buktikan kamu ini gentle, dan kalau kamu memang benar-benar sayang padanya, katakan sekarang juga!”
Faris : “Benar, Al! Raisa benar. Kamu harus mengatakannya pada Stefani. Buktikan perasaanmu, Al!”
Alfa : (Gugup. Berjalan mendekat ke balkon. Berdebar-debar) “Stefani!!! Maukah kamu jadi pacarku??” (Berteriak dari balkon lantai 2. Kemudian turun ke lantai 1. Faris mengikutinya)
(Semua orang melihat kejadian itu. Dan memandangi dengan ekspresi berbeda. Terkejut, tertarik dan biasa saja)
Stefani : (Tidak sanggup bicara. Hanya terdiam dan terharu memandang keatas)
Alfa : “Stefani, bagaimana?” (Harap-harap cemas)
Stefani : (Menghampiri Alfa) “Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Dan aku ingin kamu menjawab dengan jujur.”
Alfa : (Mengangguk)
Stefani : “Apa memang sudah kamu pikirkan benar ini semua? Kamu yakin tidak akan menyesal jika aku jadi pacarmu?”
Alfa : “Aku yakin. Dan aku tidak akan menyesal.”
Stefani : “Lalu, bagaimana dengan mantan pacarmu? Bagaimana jika ia sakit hati?”
Alfa : “Dia sudah menjadi masa laluku, Fan. Biarkan saja itu berlalu. Lagipula, aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya.”
Stefani : “Dan, kamu tahu kan? Aku pernah disakiti. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Dan aku percaya kamu tidak akan mengulang kesalahan orang itu lagi. Bagaimana?”
Alfa : “Iya, aku tahu itu. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menepati janjiku ini, Fan.” (Tersenyum)
Stefani : “Baiklah. Kalau begitu…… Uhmm…. Aku mau jadi pacarmu, Alfa!” (Tersenyum sambil memandangi Alfa)
Alfa : (Tersenyum bahagia)
Faris : (Tertawa bahagia) “Selamat ya! Selamat kalian berdua sudah menjalani hidup baru! Hahaha! Akhirnya tugasku selesai jugaaaa! Lunas!” (Sambil menyalami Alfa)
Alvis, Sita, Raisa, Rena dan Cita : (Menghambur keluar dari kamar) Cieeeeee!!!! Pasangan baru nih yeeeee!!! Jangan lupa PJ yaaaaa!!!” (Tertawa bersama)
Sita : “Akhirnya, kalian berdua jadi pasangan juga kan? Berarti mulai sekarang Stefani diharamkan untuk galau! Hahaha!”
Stefani : “Memangnya aku pernah galau ya selama ini?” (Wajah tanpa dosa)
(Mereka tertawa bersama. Tiba-tiba rombongan kelas XI IPA 5 datang)
Ichsan : “Pasangan baru, minta fotonya dulu dong!” *jepret* (Tanpa konfirmasi ia langsung menjepret Stefani dan Alfa. Alvis pun ikut memfoto mereka berdua)
Stefani : (Berlari mengejar Ichsan) “Ichsaaaaan! Awas kamu ya kalau sampai foto itu menyebar luaaas!”
Babak 11 (Epilog)
(Didalam bus. Perjalanan pulang menuju Bandung. Stefani duduk disamping Alfa)
Stefani : “Aku senang sekali di Jogja ini ada seseorang yang spesial memberiku kejutan yang spesial pula. Terima kasih ya atas semuanya. Terima kasih telah membuatku tersenyum…” (Tersenyum pada Alfa)
Alfa : “Aku juga. Mulai sekarang, semua masalah harus kita selesaikan bersama-sama. Kita sudah saling memiliki. Aku akan berusaha menjagamu sepenuh hatiku…..” (Memandangi Stefani)
Stefani : (Tersenyum kembali)
Bus terus melaju ke Bandung. Mereka membawa pulang semua kenangan indah yang mereka dapatkan di Kota Jogjakarta. Berawal dari kejutan coklat, hingga sampai menjadi pasangan. Mereka berdua berharap agar semuanya bisa tetap menjadi bahagia seperti ini. Malam sudah tiba. Seluruh penumpang bus terlelap. Stefani tertidur dibahu Alfa. Alfa tersenyum, dan kemudian tertidur juga. Bus terus melaju kencang menembus malam yang pekat. Meninggalkan sejuta kenangan indah yang tak mungkin akan terlupa…..
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar